Sumbawa (14/12/2023) – Setiap tenaga pendidik sudah seharusnya selalu menambah ilmu serta pengalaman agar kemampuan profesional dan personal terus berkembang. STKIP Paracendekia NW Sumbawa selalu mendorong tiap dosen, staf, dan mahasiswa agar terus mengasah kemampuan ini. Puji syukur pada Allah Yang Maha Esa, semangat ini membuahkan prestasi bagi The GREEN Campus dimana dua dosen STKIP Paracendekia NW Sumbawa lolos dalam program pelatihan Innovative Pedagogy in 21st Century for Language Teachers dari Malaysian Technical Cooperation Programme, Malaysia.
Program ini merupakan program kerja sama antar pemerintah Malaysia dengan 6 negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Adapun pelaksanaan kegiatan ini difasilitasi oleh Insititut Pendidikan Guru Kampus Bahasa Antarabangsa (IPGKBA) Kuala Lumpur selama sepuluh hari pada bulan September lalu. Melalui kegiatan ini, Mr. Alen dan Ms. Elli diperkenalkan pada aplikasi bernama Big Brown Box. Dalam aplikasi ini, Mr. Alen, Ms. Elli serta 11 peserta lainnya membuat rancangan pembelajaran (lesson plan) yang berhubungan dengan pedagogy.
Pedagogy sendiri adalah istilah yang sudah tidak asing di kalangan pendidikan. Kata ini bermakna strategi atau metode mengajar yang mendorong pemahaman siswa.
Selama mengikuti kegiatan tersebut, kedua dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris ini belajar banyak hal serta merasakan hangatnya suasana kekeluargaan yang terjalin antara para peserta dan fasilitator program. Mr. Alen menambahkan bahwa metode fasilitasi penyelenggara dalam kegiatan pelatihan juga tidak perlu diragukan lagi, “sangat engaging,” ucap beliau. Salah satu yang membuat baik Mr. Alen maupun Ms. Elli sangat terkesan adalah dengan penerapan gamification atau penerapan permainan (game) dalam pembelajaran.
“Kita tahunya (game) ini sebagai selingan, tapi di sini gamification dipakai sebagai pengajaran. Satu game bisa dipakai untuk semua skill, seperti speaking, listening, dan lain-lain tergantung bagaimana kita mengembangkannya,” papar Ms. Elli.
Mr. Alen menambahkan, “Hal yang unik (dari gamification) adalah ini bukan hal baru. Bagaimana mereka me-rebranding game tradisional menjadi modern sehingga di sini permainannya betul-betul merangkul budaya. Permainan lokal juga dimodifikasi dengan teknologi sehingga anak-anak yang tumbuh dalam dunia modern juga jadi kenal dengan ide-ide permainan lokal sehingga budaya lokal tidak terlupakan. Semoga ini bisa diterapkan di Indonesia. Ini cocok di semua kalangan, misalnya kita mengajar di tempat terpencil, kita bisa pakai game tradisional lama, yang di kota, kita bisa pakai game yang di-rebranding.”
Lebih lanjut, keduanya mengungkapkan bahwa untuk dapat lolos dalam program ini tentu tidak mudah. Keduanya harus menempuh seleksi serta menyiapkan skor TOEFL dengan nilai minimal 550. Di samping itu, seleksi ini juga dilaksanakan secara langsung oleh Kementrian Luar Negeri RI, yang kemudian hasil seleksi tersebut juga diseleksi oleh Kementrian Luar Negeri Malaysia. Sehingga, dapat dipastikan bahwa seleksi yang dilalui terbilang cukup ketat.
Adapun informasi mengenai program ini diperoleh dari jaringan Mr. Alen yang berada di Singapura. Menurut Mr. Alen, “Pertama, hal yang paling powerful adalah network atau jaringan, linkage, friendship. Salah satu contoh informasi ke Malaysia ini saya dapat dari teman kelas saat kegiatan di Singapura. Kemudian, tentunya bersemangat mendapatkan pengetahuan yang didapatkan. Kalau kita keluar (negeri), wawasan dan pengalaman menjadi semakin luas, kadang ada hal-hal yang tidak kita dapatkan dari orang lain.”
Pentingnya networking ini juga diaplikasikan oleh Ms. Elli yang berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan wakil kedutaan Republik Indonesia di Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, Ms. Elli membahas tentang program pembuatan buku cerita anak berbasis budaya lokal yang selanjutnya akan direncanakan upaya tindak lanjutnya untuk mengembangkan program tersebut.
Terkait pesan yang ingin diutarakannya, Ms. Elli menambahkan, “Dalam agama kita, surat yang diajarkan pertama kali adalah (Q.S.) Iqra, bacalah. Usia bukanlah hambatan untuk belajar, saya akan berhenti belajar ketika nafas saya berhenti. Saya ingin jadi ibu yang bisa dibanggakan oleh anak-anak saya, ingin jadi role model untuk anak-anak saya, saya ingin mereka lihat saya, ibu mereka saja belajar. Saya teringat omongan orang tua saya, Bapak bilang, “sekolah setinggi-tingginya sampai habis gelar di dunia ini, saya ga mau nasibmu seperti saya”, ucap beliau menyemangati.
Pada akhir program ini, Mr. Alen ditunjuk oleh seluruh partisipan untuk menjadi perwakilan partisipan dalam menyampaikan kesan dan pesan. Beliau mengucapkan terima kasih pada Menlu Malaysia serta tim penyelenggara IPGKBA. Beliau berpesan terkhusus pada tiap peserta bahwa jangan sampai perbedaan budaya dan bangsa memecah, tetapi menyatukan. Di akhir penyampaiannya, beliau mengutip Mahatma Gandhi yang berkata, “There are no goodbye for us, wherever you are, you are always in my heart.”
Tidak ada hal yang tidak berkesan bagi Mr. Alen dan Ms. Elli selama kegiatan tersebut berlangsung. Seluruh rangkaian acara tidak hanya membawa bekal ilmu tetapi pengalaman dan jaringan yang luar biasa bagi kedua dosen the GREEN Campus ini.
Laporan: Dita (Humas STKIPPNWS)