Warga Pulau Moyo Diajar Bahasa Inggris

STKIP Paracendekia NW Sumbawa mengadakan Program Pendampingan Pemuda dengan Kecakapan Bahasa Inggris Pariwisata Berbasis English Village di Kawasan Wisata Pulau Moyo. Program ini dilaksanakan melalui Bantuan Sosial Biro Keuangan Sekretariat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rektor STKIP Paracendekia NW Sumbawa, Dr H Iwan Jazadi, Ph.D yang ditemui Jumat (2/5), menyebutkan program tersebut telah dilaksanakan selama 4 minggu, mulai 10 Maret  hingga 5 April 2014. Selama mengikuti program pendampingan, para peserta secara intensif dibina dan dibimbing berbahasa Inggris oleh tim pendampingan dari STKIP Paracendekia NW Sumbawa.

Tim ahli dalam program ini terdiri dari Dr H Iwan Jazadi Ph.D, sebagai pengembang materi pelatihan Bahasa Inggris, Ahmad Yamin MH sebagai pengembang bahan pemberdayaan sosial, dan Umar, M.Pd sebagai pemateri pemanduan wisata. Sementara tenaga pelatih Bahasa Inggris adalah Sultan S.Pd dan Darmanto, S.Pd. “Peserta program pendampingan ini berjumlah 27 orang yang berasal dari Desa Sebotok Kecamatan Labuhan Badas. Mereka sangat antusias dan termotivasi dalam mengikuti program pendampingan Bahasa Inggris ini,” kata Doktor Iwan—akrab dia disapa.

warga Pulau MoyoAntusiasme dan sambutan positif peserta dan pemerintah desa setempat sudah terlihat sejak acara pembukaan yang disetting semiformal dan dihadiri oleh tim pelatih, kepala Desa Sebotok, staf desa, kepala sekolah, peserta, dan masyarakat setempat yang ingin menyaksikan secara langsung prosesi pembukaan program.

Pelaksanaan pelatihan Bahasa Inggris katanya, dilaksanakan setiap sore yang dipusatkan di SDN Patedong Dusun Patedong. Sementara malam hari dimanfaatkan tenaga pelatih untuk mengunjungi peserta di rumah masing-masing.

“Pulau Moyo merupakan salah satu daerah yang masuk dalam “segi tiga emas” program unggulan pariwisata pemerintah Provinsi NTB melalui program SAMOTA (Satonda, Pulau Moyo, Tambora),” paparnya

Sesuai dengan namanya, kata Doktor Iwan, pendampingan ini menitikberatkan pemberian materi yang berkorelasi erat dengan dunia pariwisata, dengan harapan jebolan dari program ini akan dapat berkomunikasi dengan wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan Pulau Moyo.

Dalam pelaksanaannya, para peserta dibagi menjadi dua kelas. Pembagian kelas ditentukan berdasarkan PEM (Participants’ English Mastery). Pembagian kelas dilaksanakan agar tim pelatih dapat menentukan materi yang sesuai dengan kemampuan peserta.

Sementara itu, Amrullah NA–Kepala Desa Sebotok yang dimintai tanggapannya menilai program tersebut sangat bermanfaat.

“Saya pribadi dan atas nama pemerintah Desa Sebotok memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada STKIP Paracendekia NW Sumbawa yang telah memberikan kesempatan luar biasa kepada pemuda di desa ini untuk mendapatkan ilmu kepariwisataan khususnya Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi global,” katanya.

Amrullah berharap agar program tersebut dapat dilanjutkan, dan pemerintah Desa Sebotok akan menyiapkan sarana dan prasana yang jauh lebih baik untuk pelaksanaan program berikutnya.

Sementara Kepala SDN Patedong, Haeruddin, S.Pd.SD, menyampaikan bahwa Pulau Moyo adalah destinasi wisata yang sudah terkenal bukan hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. “Kehadiran program ini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sini,” katanya.

Ini merupakan awal yang sangat baik untuk memotivasi pemuda di desa ini untuk terus belajar agar kualitas SDM desa yang terpencil ini semakin meningkat.

“Sebagai salah satu tokoh pendidikan di desa ini, saya memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada STKIP Paracendekia NW Sumbawa yang telah mampu mendobrak semangat belajar pemuda di sini. Dengan hadirnya program ini, daerah ini khususnya Dusun Patedong terasa berubah bagaikan daerah Eropa, karena peserta program ini begitu mudah dan santai melakukan tegur sapa dan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Semoga program ini akan mendapatkan atensi positif dari pihak pemerintah sehingga ke depannya program ini akan berlanjut,” harapnya.

Halifin salah seorang peserta mengaku awalnya ragu mendaftar menjadi peserta program tersebut, karena pengalaman buruknya saat SMP.

“Saya sangat bingung dengan Bahasa Inggris, tulisannya ‘one’ tetapi dibaca ‘wan’. Tetapi setelah bergabung dengan program ini, saya merasakan perubahan drastis. Saya yang dulunya sangat membenci Bahasa Inggris menjadi sangat suka karena metode dan materi yang diterapkan dan diajarkan tutor, membuat saya jatuh cinta dengan Bahasa Inggris,” akunya.

Mahani Peserta lainnya mengaku program yang diterapkan STKIP Paracendekia NW Sumbawa sangat luar biasa dan menyenangkan. “Thanks to STKIP Paracendekia NW Sumbawa. Do you like coconut,” katanya menguji wartawan yang mewawancarainya.

Demikian dengan Baharuddin, yang mengaku sangat bangga dapat menyapa dan berkomunikasi dengan bule.

Sebelum mengikuti program ini, dia hanya dapat berkomunikasi dengan bule (turis) menggunakan isyarat dan bahasa tubuh.

sementara Mappincara juga peserta program,  berharap program tersebut berkelanjutan karena pengetahuan yang diperoleh merupakan pengetahuan masa depan yang mampu meningkatkan ekonomi.

“Setelah ikut  program ini, serasa dunia ada di dalam genggaman. Suasana desa juga seperti kampung Inggris karena kami sering bertegur sapa menggunakan bahasa Inggris, thank you STKIP atas programnya,” ucapnya. 

 

Sumber : Samawarea.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight + 16 =