Oleh : Hj. IGA Widari, S.E, M.Pd.
Pembantu Ketua II STKIP Paracendekia NW Sumbawa
Ketua Bidang Lingkungan Hidup
Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Sumbawa
Disiplin merupakan suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaaan, keteraturan dan ketentuan. Menurut Suradisastra (1991: 29), disiplin berarti sikap untuk menepati apa yang telah dijanjikan, keteguhan hati, kekuatan jiwa, dan tidak mudah tergoda untuk hal-hal yang bisa mencelakakan diri.
Beberapa manfaat dari kedisiplinan antara lain meliputi menumbuhkan kepekaan, kepedulian, keteraturan, ketenangan, rasa percaya diri, kemandirian serta keakraban dan membantu perkembangan otak. Adapun ciri-ciri disiplin antara lain selalu mentaati peraturan, berusaha tepat waktu selalu hidup terjadwal dengan teratur, serta selalu melaksanakan tugas dengan baik dengan membiasakan hidup disiplin (pkbmdaring.kemendikbud.go.id).
Menjadi orang tua dan memiliki anak merupakan kebahagiaan tersendiri bagi semua pasangan. Agar dapat tumbuh dengan optimal, anak harus dididik dengan sebaik-baiknya, antara lain melalui penanaman nilai-nilai kedisiplinan. Sayangnya, masih ada sebagian orang tua yang menanamkan kedisiplinan dengan melibatkan kekerasan. Padahal, sejatinya menanamkan nilai-nilai kedisplinan pada anak harus dilakukan dengan rasa kasih sayang dan kelembutan.
Bentuk-bentuk perlakuan kasar sebaiknya dihindari karena akan berdampak negatif terhadap psikologi anak. Wijaya (2015 dalam www.keselamatan_keluarga.com) mengemukakan bahwa hukuman dan kekerasan atau disiplin negatif tidak akan memberikan dampak positif apapun. Hukuman membawa dampak negatif jangka panjang yang merugikan anak.
Penerapan disiplin pada anak dimulai sejak awal perkembangan anak dengan membantu mereka memahami apa yang baik dan buruk bagi dirinya dan bagaimana standar perilaku yang buruk terhadap lingkungannya. Menurut Flanagen (2013) dalam presentasinya di Australasian Conference On Child Abuse and Neglect, disiplin positif adalah upaya orang tua dalam memperkuat hubungan dengan anak, yaitu dengan berusaha memahami perspektif atau sudut pandang anak, membangun empati, mempromosikan pengaturan diri (self-regulation), meminimalisasi hukuman, memperkuat kepercayaan diri anak dan memfasilitasi pemecahan masalah yang melibatkan anak.

Menurut pengalaman penulis, nilai-nilai kedisiplinan yang ditanamkan orang tua dalam masa-masa perkembangan anak berdampak sangat kuat hingga masa tua, bahkan penerapannya dapat diwariskan kepada siswa maupun mahasiswa serta anak-anak sebagai bagian dari penerus cita-cita bangsa. Sosok ayah dan ibu merupakan parner hebat yang mampu menanamkan nilai-nilai luhur kedisiplinan. Seperti bangun sebelum waktu Subuh, menyelesaikan pekerjaan rumah sesegera mungkin, mematikan kran air dan lampu jika tidak diperlukan, mengembalikan pinjaman barang, uang atau buku sesegera mungkin. Hal ini dilakukan karena adanya keyakinan bahwa orang lain juga pasti membutuhkan hal yang sama dengan kita.
Masih banyak contoh lain seperti kita tidak membiarkan cucian menumpuk dan tidak membiarkan cucian tidak segera diangkat jika sudah kering. Dalam hal makan, kita juga tidak diperbolehkan untuk berbicara saat ada makanan atau masih mengunyah. Saat bepergian, kita selalu minta izin terlebih dahulu. Saat mengerjakan tugas atau bermain ke rumah teman, kita berusaha untuk pulang sebelum azan Magrib. Kalau pun lewat waktu, sebaiknya shalat dulu di rumah teman atau masjid terdekat . Setelah belajar, kita selalu merapikan buku-buku yang sudah dibaca ke tempat semula. Semua hal ini kita lakukan atas kemauan dan kesadaran sendiri karena kedisiplinan sejati hidup dan tumbuh dalam diri sendiri.
Dalam Islam kita diajarkan untuk melakukan kedisiplinan dalam segala hal. Dari kita shalat lima waktu, mengawali doa sebelum beraktivitas, melangkahkan kaki ketika keluar dari rumah atau memulai sesuatu dengan tangan kanan atau kaki kanan. Memulai sesuatu diawali dengan melafazkan basmalah. Dari kita menuju tempat tidur sampai kita terjaga kembali segala sesuatu, kita sertai dengan doa. Secara tidak langsung ada nilai-nilai kedisiplinan juga yang kita peroleh dalam berbagai kegiatan ini.
Dalam beberapa kajian Islam, kita juga sering mendengar tentang pentingnya menanamkan nilai kedisplinan sejak dini. Contohnya, mengerjakan shalat lima waktu wajib di awal waktu, membaca Al-Qur’an sesering mungkin, dan bentuk amalan-amalan lainnya. Dalam Al-Qur’an, Surat An-Nisa Ayat 59 disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Ulil Amri dari kalangan kamu.” Ayat ini menyiratkan bahwa sumber utama kedisiplinan adalah ketataan kepada Allah, Rasulullah dan para pemimpin. Tentu ketaatan ini kita lakukan dengan kesadaran, keinsyafan dan keikhlasan, bukan dengan paksaan atau perasaan tertekan, tersiksa atau terzolimi.

Disiplin sesungguhnya merupakan kunci sukses. Kedisiplinan melahirkan karakter pantang mundur dan jauh dari sifat putus asa dalam kebenaran dan menegakkan prinsip hidup. Kedisiplinan juga melahirkan kesadaran kita untuk tumbuh sehat dengan merawat diri, berolahraga dan memilih makanan bernutrisi, dan untuk berkembang secara psikologis melalui belajar giat selagi menjadi pelajar dan mahasiswa maupun sebagai pembelajar sepanjang hayat. Jadi, begitu besar dampak disiplin dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Dengan semangat hari anak nasional, mari kita cerdaslan anak-anak kita melalui pendidikan yang berkualitas dan berkeadaban dan doa terbaik yang akan selalu kita panjatkan untuk kesuksesan dan keberkahan hidup dunia dan akhrat.