Dosen STKIP Paracendekia NW Sumbawa Hidupkan Semangat Kesukarelawanan hingga Istanbul, Turki

SUMBAWA, Humas STKIPPNWS – Semangat Kesukarelawanan hendaknya perlu ditanamkan dalam diri tiap individu. STKIP Paracendekia NW Sumbawa selalu menunjukkan konsistensi dalam upaya menumbuhkan jiwa kesukarelawanan tiap dosen, staf, dan mahasiswa hingga masyarakat luas. Setelah sukses menginisiasi Komunitas Relawan Literasi Kabupaten Sumbawa di awal tahun, kali ini salah satu dosen Kampus Hijau menghidupkan semangat kesukarelawanan ini hingga ke luar negeri tepatnya ke Istanbul, Turki.

Aris Dwi Intan Aprianti, S.Pd., M.Appling. merupakan Ketua Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Paracendekia NW Sumbawa yang mendapatkan kesempatan selama dua minggu untuk melaksanakan sebuah program kesukarelawanan di Turki pada 8–18 November lalu. Program ini diinisiasi oleh sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) di Istanbul-Turki, Iyilik Denizi. Organisasi ini bergerak dalam kegiatan kesukarelawanan dalam aktivitas kemanusiaan. Kegiatannya meliputi pembagian sembako, air, pakaian, dan selimut kepada anak-anak dan keluarga mereka yang membutuhkan di Turki dan di Afrika. Kegiatan utama ini aktif dilaksanakan di musim dingin.

Dalam program yang diadakan di musim gugur di Turki kali ini, Ms. Intan, demikian sapaannya, lebih terlibat dalam peningkatan kualitas internal organisasi tersebut. Dengan latar belakang Pendidikan Bahasa Inggris serta pengalamannya sebagai tenaga pendidik, ia memfokuskan kontribusinya pada kegiatan praktik bahasa Inggris di kantor organisasi tersebut. Ia menerangkan, “Saya mengajak kembali para staf untuk belajar bahasa Inggris, mengajarkan mereka berbahasa Inggris, serta memotivasi mereka agar untuk lebih komunikatif dalam bahasa Inggris apalagi karena (organisasi) mereka reach out ke dunia internasional.”

Dalam praktiknya, Ms. Intan menginisiasi sesi belajar bersama, memberikan materi-materi sederhana yang dapat dipraktikkan para staf di sela-sela kegiatan harian mereka. Ia selalu mengupayakan membuka pembicaraan ringan bersama para staf sebagai upaya mendorong kemauan dan kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris.

Tidak hanya terlibat langsung dalam kegiatan menumbuhkan semangat dan praktik berbahasa Inggris di kantor NGO tersebut, dalam dua minggu penjajakan kegiatan kesukarelawanan ini, Ms Intan juga berkontribusi dalam hal lain. Ia aktif membantu pemeriksaan (proofread) dan persetujuan (approval) dokumen-dokumen organisasi dalam bahasa Inggris.

Saat ditanyakan mengenai persiapannya sebelum memenuhi amanah kesukarelawanan ini, dengan semangat Ms. Intan menjawab telah melakukan persiapan secara bertahap sejak sebelum keberangkatan. Lantaran presiden organisasi yang memberikan keleluasan sepenuhnya pada Ms. Intan untuk menyiapkan materi ajarnya, Ms. Intan menyiapkan beberapa materi dasar terlebih dahulu.

Selain itu, ia tidak lupa mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Untuk mengurangi efek culture shock, ia juga mencari informasi mengenai kultur di Istanbul dengan bertanya pada koleganya yang mengetahui lebih banyak tentang kultur di sana. Sesampainya di kota yang sebelumnya disebut Konstantinopel tersebut, ia mengobservasi kantor organisasi tersebut dan melakukan pengamatan sederhana terkait apa saja yang diperlukan oleh para staf dalam meningkatkan motivasi dan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Setelah itulah ia menyiapkan dengan matang apa saja yang dapat ia ajarkan.

Mengenai kegiatannya ini, Ms. Intan juga berbagi tentang apa yang mendorongnya hingga ia mau mendedikasikan waktunya untuk terlibat dalam kesukarelawanan hingga ke luar negeri. “Karena (saya) ingin menjajaki pengalaman volunteerism. Karena (saya) sangat suka dengan bidang volunteerism, apalagi juga (turut) berkecimpung dalam program pengajaran literasi oleh Komunitas Relawan Literasi Kabupaten Sumbawa,” ungkapnya. Empatinya senantiasa bertumbuh tiap kali ia terlibat dalam kegiatan kesukarelawanan.

Hal itulah yang mendorong Ms. Intan untuk aktif mencari informasi mengenai kesempatan volunteerism secara aktif, mulai dari media sosial hingga informasi selebaran secara daring yang didapatkan melalui rekan-rekan sekitar beliau. Negara Turki sebagai tujuannya kali ini, tentu menjadi salah satu dorongan yang besar pula karena dapat memberikan Ms. Intan kesempatan untuk memperkaya pengetahuan, pengalaman, serta sebagai kesempatan travelling di negara baru yang belum pernah didtangi sebelumnya.

Ia menerangkan bukan hanya dirinya menjadi relawan, beliau juga menjadi pelajar di Turki. “(Saya) belajar tentang NGO secara tidak langsung, mendalami dunia volunteerism dan semangat kesukarelawaanan. Saat di sana, (saya) bisa mengenal dengan baik orang-orangnya dan membangun relasi. (Saya) belajar budaya baru dimana dapat menambah ilmu (terkait) sejarah Islam seperti saat mengunjungi Hegia Sophia,” pungkasnya dengan semangat.

“Kesempatan itu banyak jalannya, (ada) dari sosmed ataupun teman. Yang terpenting, kita sendiri harus aktif mencari dan meraih kesempatan itu,” tutupnya dalam pesan yang singkat namun penuh makna.

Penulis: Dita Rezkia Utami (Humas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *