Dari Saudi Arabia ke Australia: Kisahku Meraih Beasiswa Bergengsi

 

Kesuksesan itu kadang berawal dari sebuah mimpi dan imajinasi. Ungkapan ini kuakui benar adanya dan nyata terjadi dalam hidupku. Bisa ke luar negeri secara gratis hanya dengan bermodal bisa bahasa Inggris adalah impianku sewaktu aku duduk dibangku sekolah dasar. Aku melihat orang-orang yang bisa berbahasa Inggris memiliki peluang yang besar untuk bergaul dengan orang-orang dari berbagai macam negara. Bagiku itu adalah hal yang luar biasa. Mimpi itu semakin menjadi-jadi tatkala seiring berjalannya waktu, aku semakin bersemangat untuk belajar bahasa Inggris. Bahkan ketika aku duduk di bangku SMA, aku seringkali diberi kepercayaan oleh guru bahasa Inggrisku untuk menulis latihan dan tugas di papan tulis. Berbagai usaha kulakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku, salah satunya adalah mengikuti kursus bahasa Inggris di luar sekolah. Sebelum ujian nasional tiba, kuputuskan untuk berbicara dengan kedua orang tuaku. Kuutarakan niatanku pada mereka berdua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Berhubung saat itu tidak ada  universitas di Sumbawa yang membuka program studi bahasa Inggris, maka aku putuskan untuk kuliah di luar Sumbawa, tepatnya di Mataram. Namun, jawaban yang kuterima dari mereka sungguh membuatku sedih. Mereka tidak mengizinkanku kuliah karena tidak ada biaya. Aku menangis karena tidak bisa menahan kekecewaanku. Impianku selama bertahun-tahun harus kandas di tengah jalan. Namun, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku sangat menyadari mengapa mereka memberiku jawaban sepahit itu. Bapakku adalah seorang nelayan. Usianya yang tidak muda lagi, 60 tahun, membuatnya tidak bisa mencari nafkah seperti dulu. Musim, cuaca dan kondisi angin juga sangat mempengaruhi hasil tangkapan beliau. Tidak terbesit niatku untuk memaksa mereka, tatkala kulihat wajah mereka yang renta. Aku sangat berterima kasih pada mereka karena aku sudah diberi kesempatan untuk bisa bersekolah seperti teman-teman lain. Aku sangat bersyukur pada Allah karena diberi orang tua yang luar biasa selalu mendukungku. Meski tidak bisa mendukungku secara finansial, mereka selalu memberiku dorongan dalam segala segi. Nilai-nilai yang mereka ajarkan membuatku sanggup melewati segala cobaan hidup.

            Setelah tamat SMA (1999), aku berusaha mencari pekerjaan. Orang tuaku tidak pernah sedikitpun memaksa aku untuk segera mencari kerja. Namun, terbesit rasa malu dihatiku. Usiaku sudah mendekati 20 tahun, tetapi aku masih meminta. Hatiku berkata kapan aku bisa memberi mereka sedikit dari hasil keringatku. Pekerjaan pertama yang kudapat adalah sebagai penjaga kaset VCD dan DVD. Alhamdulillah, dari pekerjaan itu aku bisa memenuhi kebutuhanku. Aku belum bisa memberi mereka; namun paling tidak aku sudah bisa mengurangi pengeluaran mereka untukku.

            Lalu di tahun 2000 tiba-tiba muncul niatku untuk bekerja di luar negeri tepatnya di Saudi Arabia. Kuberi tahu mereka tentang hal itu. Mereka melarangku untuk pergi. Mereka takut terjadi apa-apa denganku. Banyak kasus kekerasan terjadi terhadap TKW seperti disetrika, disiksa, tidak diberi makan, bahkan tidak diberi gaji. Namun, tekadku sudah bulat, kalau bukan aku yang mengubah nasibku, siapa lagi. Kukatakan pada mereka, aku hanya minta doa mereka karena aku sangat percaya pada kekuatan doa apalagi itu doa dari kedua orang tua. Aku pergi untuk masa depanku karena aku juga ingin hidup yang lebih baik. Aku ingin tangan ini bisa memberi mereka sedikit kebahagiaan. Mereka akhirnya memberiku izin. Akupun akhirnya berangkat ke Saudi Arabia setelah mengikuti serangkaian pelatihan dan pendidikan di Jakarta. Aku bekerja di sana selama 2 tahun dan kembali ke tanah kelahiranku pada tahun 2003. Penghasilanku selama bekerja di sana tidak bisa mencukupi untuk melanjutkan pendidikan ke bangku S1. Akhirnya setelah dua tahun berselang aku memutuskan kembali ke Saudi Arabia untuk bekerja. Dari hasilku selama 2 tahun, akhirnya aku bisa melanjutkan cita-citaku.

            Tahun 2007 aku mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta, STKIP Hamzanwadi Selong, yang membuka kampus dua di Sumbawa. Alhamdulillah setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada juga perguruan tinggi yang membuka program studi bahasa Inggris. Kakakku merekomendasikan institusi tersebut sebagai tempat aku kuliah, karena orang yang mengelolanya adalah teman kakakku sewaktu sekolah di SPG: Dr Iwan Jazadi, yang sekarang menjadi pimpinan STKIP Paracendekia NW Sumbawa, tempat aku bekerja sebagai dosen saat ini. Aku akhirnya kuliah di usia yang tidak lagi muda, 26 tahun. Usiaku terpaut jauh dengan teman-teman sekelasku, usia mereka rata-rata 19-20 tahun. Namun, itu tidak membuatku berkecil hati, malah membuatku semakin bersemangat belajar. Ini dibuktikan dengan nilai-nilaiku yg selalu unggul di tiap semester. Aku juga kuliah sambil bekerja membantu ibuku. Pagi sampai siang aku kerja membantu usaha beliau, jual beli nener atau bibit ikan bandeng. Di bangku kuliah juga aku dipertemukan Allah dengan jodohku. Dia adalah teman sekelasku. Kami menikah dan setelah setahun setengah usia pernikahan akhirnya anakku lahir. Saat tugas akhir kuliah, Aku, suami dan anak harus berangkat dan tinggal di Selong karena perguruan tinggi kami mengharuskan penuntasan studi di kampus induk. Kami menyusun skripsi di sana. Aku menyusun skripsi sambil merawat bayi. Suamiku juga harus pulang pergi Sumbawa-Selong karena beliau juga mengabdi di sebuah SD di Sumbawa, dimana beliau diberi amanah sebagai bendahara BOS.  Menyusun skripsi sambil mengurusi anak bukanlah beban buatku karena aku juga masih sempat membantu teman-teman yang mengalami kesulitan dengan skripsi mereka. Bagiku ilmu itu bukan untuk diri sendiri,tetapi juga untuk orang lain. Ada kewajiban kita sebagai umat Islam untuk menyampaikan ilmu yang kita telah dapatkan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: balligu ‘anni walau aayat yang artinya “sampaikan dari-Ku meskipun (hanya) satu ayat”. Akhirnya aku dan suamiku menyelesaikan perkuliahan pada tahun 2012 dan resmi mendapat gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, dengan IP Komulatif di atas 3,30.

            Setahun kemudian aku dan suamiku mengikuti pelatihan bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Pemerintah Australia, ELTA (English Language Training Assistance) NTB 2013. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, mulai dari tahap seleksi administrasi, tes tulis dan wawancara akhirnya kami berdua dinyatakan lulus sebagai salah satu dari 30 peserta dari seluruh NTB. Pelatihan tersebut bertujuan untuk membantu peserta untuk meningkatkan nilai IELTS (International English Language Test System). Nilai ini dapat dipakai sebagai salah satu persyaratan mendaftar beasiswa keluar negeri. Setelah mengikuti pelatihan selama 3 bulan, akhirnya aku lulus dengan  dengan nilai yang sangat memuaskan, 6. Dari 30 peserta hanya ada 5 orang yang mendapat nilai 6. Aku satu-satunya peserta yang berasal dari Sumbawa yang mendapat nilai tinggi itu (ada 4 orang peserta dari Sumbawa, aku dan suami serta 2 orang teman lainnya), selebihnya berasal dari Mataram. Nilai itu menjadi salah satu tanda awal dari hidup yang lebih baik insya Allah ke depan. Aku melamar beasiswa bergengsi AAS (Australia Award Scholarship). Lalu sambil menunggu panggilan interview, rektor tempat aku bekerja, memberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan orang-orang hebat di Tana Samawa ini. Aku dan suami menjadi pengajar di kursus bahasa Inggris untuk para pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa selama 6 bulan. Ini adalah proyek kerjasama antara BKPP dan STKIP Paracendekia NW Sumbawa. Sangat menyenangkan bisa berbagi ilmu dengan mereka.

            Setelah menunggu selama hampir setahun, akhirnya aku dan suami dinyatakan sebagai salah satu dari 912 peserta (dari keseluruhan 2900 pelamar) dari seluruh Indonesia yang akan diinterview bulan Januari 2015 untuk program Master dan Doktoral di mana hanya akan dipilih 440 orang yang berhak menerima beasiswa itu. Tahun 2014 berlalu, tibalah pada detik-detik yang menegangkan. Hari interview tiba, aku mendapat giliran interview di hari pertama. Di mana hari itu akan ada 2 pakar yang disebut joint selection team (1 orang dari Australia dan 1 orang dari Indonesia) yang akan memawancara kami. Proses wawancara berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Setelah mengikuti interview, kami diminta untuk menunggu berita kelulusan yang akan disampaikan melalui email di awal Februari. Jumat, 6 Februari 2015, setelah sholat dhuhur, salah satu temanku yang bekerja di Papua mengirim pesan, bahwa sudah ada beberapa teman yang sudah mendapat email kelulusan. Aku gelisah, menangis dan berdoa pada Allah. “Jika ini yang terbaik untukku, keluargaku, agama dan negaraku, luluskan aku ya Allah, dan jika takdirku bukan untuk mendapatkannya, maka berilah aku ketabahan, keiklasan dan kesabaran untuk menerimanya”, pintaku dalam doa. Dan alhamdulillah akupun akhirnya menerima email kelulusan itu. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sujud syukur aku pada-Nya atas segala yang telah dianugerahkan kepadaku. Terima kasihku buat bapak dan ibuku yang senantiasa mendoakanku. Dan tak lupa aku ucapkan terima kasih buat suami dan anakku tercinta, tanpa ridhonya tidak mungkin aku sampai ke titik ini. Semoga aku bisa tetap menjadi manusia yang lebih baik dan bisa berkontribusi dalam pembangunan Tana Tamawa yang tercinta ini. Aku sangat bangga menjadi “Tau Samawa”. Satu pesanku buat teman-teman atau pun adik-adik, jangan pernah malu dengan pekerjaan yang kamu jalani meskipun hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, asal itu halal. Buktikan bahwa hidup kita bisa lebih baik setelah menjadi TKW. Segala sesuatu yang diawali dengan niat yang tulus pasti akan berbuah manis. Mari terus belajar bahasa Inggris dan bergabunglah dengan STKIP Paracendekia NW Sumbawa untuk masa depan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =